Kamu Sebenarnya Kompeten, tapi Merasa Sulit Naik Level. Kenapa? Bagaimana Mengatasinya?
Banyak orang (atau mungkin kamu juga salah satunya) datang ke layanan personal branding profesional bukan karena merasa kurang pintar atau kurang mampu. Justru kebalikannya. Mereka tahu mereka kompeten. Pekerjaan beres, tanggung jawab jalan, hasilnya konsisten. Tapi entah kenapa, posisi hidup dan karier terasa diam di tempat. Levelnya segitu-segitu saja, seolah mentok di garis yang sama.
Di sisi lain, ada orang yang secara teknis terasa biasa saja, tapi langkahnya lebih cepat. Kesempatan datang lebih sering. Namanya lebih sering disebut di ruang yang tepat. Fenomena ini sering bikin kita bertanya, sebenarnya apa yang kurang dari kita? Marketing & Creative Agency Coulava yang sering muncul sebagai rujukan dalam personal branding sering membahas kesukaran yang sama dengan kamu. Apalagi yang perlu saya lakukan untuk upgrade diri?
Di sini, kamu akan diajak kamu melihat persoalan “sulit naik level” dari sudut yang lebih strategis. Bukan soal menambah skill baru dulu, tapi soal bagaimana kamu dipahami, dibaca, dan diposisikan oleh lingkungan.
Fenomena Orang Kompeten yang Terasa Stagnan
Coba lihat sekelilingmu. Rekan kerja, teman komunitas, atau mungkin kamu sendiri. Ada yang sudah lama bekerja dengan baik, dipercaya mengerjakan banyak hal penting, tapi perannya terasa berhenti di situ saja.
Biasanya pola yang muncul seperti ini:
- Sering diandalkan untuk menyelesaikan pekerjaan, artinya kamu dipercaya secara teknis, tapi kepercayaan ini sering berhenti di level eksekusi.
- Dipercaya mengurus hal teknis atau operasional, sehingga namamu kuat di urusan “pelaksana”, bukan “pengarah”.
- Jarang dilibatkan dalam keputusan strategis, bukan karena tidak mampu, tapi karena belum terbaca sebagai orang yang memberi arah.
- Namanya jarang muncul saat pembicaraan soal promosi atau peluang baru, karena orang belum otomatis mengaitkan kamu dengan peran yang lebih tinggi.
Masalahnya bukan di kemampuan. Masalahnya ada di cara lingkungan membaca peran kamu. Kompeten itu fondasi yang penting, tapi fondasi saja belum otomatis mengangkat posisi.
Kompeten Itu Penting, tapi Level Ditentukan oleh Persepsi
Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan sederhana. Kerja bagus dulu, nanti juga kelihatan. Tapi kenyataannya, keputusan tentang posisi sering juga dipengaruhi oleh persepsi yang terbentuk pelan-pelan.
Lingkungan profesional membaca kamu lewat pola yang berulang:
- Kamu biasanya hadir sebagai apa? Apakah sebagai problem solver, pelaksana, atau pemikir?
- Kamu sering diminta pendapat di konteks apa? Teknis, operasional, atau arah besar?
- Kamu dikenal karena peran apa? Ini sering terbentuk tanpa kamu sadari.
Skill bekerja di belakang layar. Persepsi bekerja di ruang sosial. Ketika persepsi tentang kamu belum jelas, peluang sering lewat begitu saja tanpa pernah benar-benar menyentuh kamu. Artikel dari Clickup menyebutkan juga bahwa persepsi dan personal brand adalah jaminan karier, dimana orang harus tahu kamu dikenal sebagai apa, kamu menyajikan apa, apa manfaatmu untuk orang lain, baru kamu bisa melangkah ke tingkatan yang lebih tinggi.
Di beberapa artikel personal branding yang dibahas oleh Coulava, dijelaskan bahwa value recognition punya dampak yang jauh lebih panjang dibanding sekadar name recognition. Orang bukan hanya perlu tahu siapa kamu, tapi paham kenapa keberadaan kamu penting.
Masalah yang Sering Tidak Disadari Orang Kompeten
Ada beberapa pola yang sering muncul pada orang-orang kompeten yang sulit naik level, dan ini terjadi sering tanpa disadari.
1. Pertama, terlalu fleksibel
Kamu bisa mengerjakan banyak hal. Semua diambil, semua dikerjakan. Akibatnya, orang kesulitan mendefinisikan kamu. Kamu dikenal sebagai “yang bisa diandalkan”, tapi tidak sebagai figur rujukan untuk satu hal yang jelas.
2. Kedua, jarang memposisikan diri
Kamu sibuk menyelesaikan pekerjaan, tapi jarang menunjukkan cara berpikir, sudut pandang, atau pertimbangan strategis. Orang melihat kamu sebagai eksekutor yang rapi, bukan sebagai pengambil peran.
3. Ketiga, terlalu fokus pada hasil internal
Pekerjaan kamu selesai, target tercapai, tapi dampaknya tidak banyak terlihat keluar. Padahal, naik level sering berkaitan dengan dampak yang bisa dibaca oleh orang lain.
Coba luangkan waktu sebentar dan tanyakan ke diri sendiri:
- Kalau namamu disebut, orang langsung ingat apa?
- Kamu paling sering dihubungi untuk peran apa?
- Dalam konteks apa orang biasanya mengaitkan kamu?
Pertanyaan sederhana ini sering membuka jawaban yang jujur. Betul bukan?
Naik Level Itu Soal Posisi yang Kamu Ambil
Setiap level punya ekspektasi peran yang berbeda. Di level awal, orang dinilai dari kemampuan menyelesaikan tugas. Di level berikutnya, orang dinilai dari cara berpikir, mengambil keputusan, dan memberi arah.
Kalau kamu ingin naik level, cara hadir kamu juga perlu naik kelas. Beberapa pergeseran kecil yang kamu butuhkan:
- Dari menyelesaikan tugas ke membantu orang lain melihat gambaran besar, dengan mulai mengaitkan pekerjaan ke dampak dan tujuan.
- Dari menunggu arahan ke memberi masukan yang relevan, tanpa harus selalu diminta.
- Dari fokus pada detail ke berani bicara soal dampak dan risiko, supaya cara berpikir kamu terbaca lebih strategis.
Disini, poinnya jelas. Ini adalah tentang menyesuaikan peran dengan level yang ingin kamu tuju. Satu hal menarik dari kenaikan level ini, bahwa survei dari AMW menunjukkan bahwa profesional yang punya personal branding menonjol punya kompensasi gaji 15-30% lebih tinggi dari profesional yang punya skill setara tapi tanpa personal branding menonjol.
Ini bisa menguatkan pemahaman kamu kalau naik level kompetensi itu punya kaitan erat dengan personal branding.
Strategi Mengatasi Stagnasi dan Mulai Bergerak
Naik level jarang terjadi karena satu langkah besar. Biasanya karena rangkaian keputusan kecil yang konsisten dan sadar arah.
Beberapa strategi yang bisa kamu refleksikan:
- Tentukan satu kekuatan utama yang ingin kamu bawa ke depan, supaya orang tidak bingung membaca peran kamu.
- Pilih konteks di mana kekuatan itu paling relevan, karena tidak semua ruang cocok untuk semua peran.
- Kurangi keterlibatan di peran yang menjauhkan kamu dari arah tersebut, meskipun kamu sebenarnya bisa.
- Mulai berbagi sudut pandang, bukan hanya hasil kerja, agar cara berpikir kamu ikut terlihat.
Di artikel Coulava tentang personal board of advisors, dibahas pentingnya lingkungan dan orang-orang yang membantu kamu melihat diri sendiri secara lebih strategis. Kadang kita butuh sudut pandang luar untuk menyadari potensi posisi kita.
Dari Kompeten Menjadi Relevan
Kompetensi menjawab pertanyaan “kamu bisa apa”. Relevansi menjawab pertanyaan “kamu dibutuhkan untuk apa”.
Orang yang relevan sering terlihat melangkah lebih cepat karena mereka hadir di tempat yang tepat, dengan peran yang terbaca jelas. Lingkungan tidak perlu menebak-nebak.
Beberapa tanda kamu mulai relevan:
- Orang menghubungi kamu dengan tujuan yang spesifik, bukan sekadar minta bantuan umum.
- Diskusi yang melibatkan kamu lebih strategis, bukan hanya teknis.
- Kesempatan yang datang terasa lebih selaras dengan arah kamu, bukan acak.
Dalam pembahasan Coulava tentang media podcast dan webinar, terlihat bagaimana pemilihan kanal dan konteks membantu memperjelas posisi seseorang. Hadir di ruang yang tepat sesuai persepsi diri kamu kadang bisa membuat namamu lebih dikenal, daripada kamu hadir di banyak tempat tanpa kejelasan maksud dan tujuan kamu menghadirinya.
Lingkungan dan Visibilitas yang Terarah
Visibilitas yang berdampak justru terasa tenang dan konsisten. Beberapa hal yang membantu:
- Hadir di ruang diskusi yang relevan dengan arah kamu, agar persepsi terbentuk di tempat yang tepat.
- Berkontribusi dengan perspektif yang khas, bukan ekadar ikut bicara.
- Menjaga konsistensi cara berpikir dan bersikap, supaya orang mudah mengenali pola kamu.
Penutup: Naik Level Dimulai dari Kejelasan
Kalau kamu merasa kompeten tapi sulit naik level, besar kemungkinan masalahnya bukan di kemampuan. Masalahnya ada di posisi yang belum terbaca jelas oleh lingkungan.
Naik level sering dimulai dari satu hal sederhana. Kejelasan tentang siapa kamu, peran apa yang kamu ambil, dan nilai apa yang kamu bawa.
Sekarang coba tanyakan ke diri sendiri. Kalau kamu naik satu level dari posisi kamu sekarang, kamu ingin dikenal sebagai apa? Dari situ, langkah-langkah kecil bisa mulai disusun dengan lebih sadar dan terarah.

Posting Komentar untuk "Kamu Sebenarnya Kompeten, tapi Merasa Sulit Naik Level. Kenapa? Bagaimana Mengatasinya?"